Jauh-jauh ke The Kaldera Toba, Ternyata Belum Ada Apa-Apa

Bulan lalu, saat saya ada di Medan untuk urusan keluarga sampai menjelang acara 40 hari almarhumah mami saya, kami berkesempatan main sebentar ke The Kaldera Toba.

Mumpung lagi di Siantar juga kan, mengisi waktu sebelum liburan habis dan kembali ke Jakarta. Memang kami sangat penasaran juga dengan Kaldera Toba ini, kok kelihatannya memukau sekali kalau melihat reviewnya di Google, plus terpukau dengan foto fenomenal Pak Jokowi dan Bu Iriana di Kaldera Toba dengan latar pemandangan Danau Toba.

Maka kami pun jalan dari Rumah Siantar sekitar jam sepuluh pagi. Ibu-ibu dan anak-anak, yaitu saya dan istri abang saya, lalu dua anak abang, dan Vay. Saya yang mengemudikan mobil, di sebelah kiri ipar saya, dan di belakang anak-anak.

Selama perjalanan, keponakan mendadak kebelet pipis. Menepilah kami, dan Eshar ditemani Arve menumpang buang air kecil di satu kede batak. Pas naik ke mobil, dia cerita tadi dia izinnya begini, “Nek, numpang kamar mandi boleh?” Dan kami para mamak-mamak ketawa. Masa orang batak dipanggil “nenek”. Ini Eshar polos banget dan lupa kayaknya kalau dia Damanik, selama di Sumatera Utara harusnya semua dipanggil Opung. Hahaha…

Lokasi The Kaldera Toba

Objek wisata baru berada di kawasan Danau Toba, kecataman Ajibata, Kabupaten Toba. Kalau jalan dari Medan, harus sampai di Pematang Siantar dulu, baru kemudian ambil jalan ke arah Parapat, dan begitu ketemu tempat wisata Danau Toba Parapat, lanjut lagi terus selama kurang lebih satu setengah jam bila berkendara dengan mobil.

Karena baru pertama kali, kami menggunakan panduan dari Google Maps, yang petanya sudah saya download offline malam sebelumnya. Maklumlah ya, sinyal telekomunikasi di daerah Sumatera terutama di daerah-daerah ujung belum ada penguatan maksimal. Jadi biar aman, peta-peta harus didownload offline.

Apa saja yang ada di The Kaldera Toba

Sebelum ke sini, kami sudah mencari tahu dulu ada apa saja. Selain pemandangan lanskap Danau Toba, The Kaldera Toba Nomadic Escape juga menawarkan rumah cabin yang menghadap ke arah Danau Toba. Cakep.

Kami masuk ke dalam setelah membeli tiket masuk sebesar 15 ribu per orang. Jalanan belum rapi, semua masih tanah disiram batu kerikil yang kasar dan belum rata. Dalam hati, saya memutuskan tempat ini tidak akan cocok untuk bawa orang tua yang sudah sepuh dan susah jalan seperti papi saya, karena belum ada trek untuk kursi roda.

Selain itu kalau melihat papan rencana pembangunan kawasan Kaldera di dalam, nantinya tempat ini akan memiliki fasilitas yang lengkap dan targetnya beroperasi resmi di 2024.

Kalau saat ini? Ya, jujur saja, tidak ada apa-apa. Hahah. Kami tiba di sana jam setengah dua belas, lalu saya lihat kenapa mobil-mobil cepat sekali bubar jalan pulang? Lalu di areal parkir yang masih dengan konsep tanah, ada satu kedai kopi kontrainer yang cukup ramai oleh pengunjung. Lalu ada jajanan buah segar.

Dan ternyata, di dalam itu tidak ada apa-apa. Bobox cabin? Ya memang itu ada, tapi terlihat hampir semua kosong (mungkin sedang tidak  ada yang menginap). Tapi, bahkan kafe atau restoran pun tidak ada yang beroperasi di dalam. Saat Vay bertanya pada salah satu pegawai yang melintas, jawabnya, “Lagi mentenens.” Which is saya tidak yakin itu jawaban yang sebenarnya, karena sepanjang mata memandang tidak terlihat ada kafe atau restoran.

Kami sampai bingung, lho jadi bagaimana ini mau makan siang? Kalau tahu di sini tidak ada apa-apa, kita sudah bawa bekal makanan seperti waktu kami liburan ke Aceh, kami bawa bekal makanan untuk beberapa hari di sana.

Baca cerita liburan ke Aceh yang lain di sini: Liburan ke Aceh Sama Remaja, Ini Tempat Wisata Yang Harus Dikunjungi

Pantas saja orang-orang langsung pulang. Ya ampun, saya tuh kasihan lho sama turis yang jauh-jauh datang pakai bus, perjalanan saja 90 menit dari Siantar, sampai di Kaldera, cuma foto-foto ala Pak Jokowi, dua puluh menit terus pulang. Bayar Rp15 ribu tapi cuma segitu aja. Kelewatan sih promosinya, kasihan masyarakat yang datang jauh-jauh ke sini. Kaldera Toba ini bukan tempat yang dekat, ini jauh ini kalau dihitung dari Medan maka kurang lebih enam jam, sementara saya lihat ada bus anak sekolah, ada bus pribadi seperti orang-orang yang datang dari Jakarta, lalu ada yang dari Pekanbaru datang, tapi lalu kecewa karena tidak ada apa-apa SELAIN BERFOTO DI MEJA SEPERTI JOKOWI-IRIANA. Itu juga mau foto di situ antrinya minta ampun, banyak bocor juga.

The Kaldera Toba

the kaldera

Tertawa-tawalah saya dan ipar saya. Kena prank kita gara-gara terinfluence foto Jokowi-Iriana, padahal tempat ini belum ada 30% selesai dari rencana pembangunan.

wisata di the kaldera toba

Kami memang hanya dua puluh menit di dalam, langsung bosan karena tidak ada apa-apa lagi. Sudah lapar berat juga, akhirnya kami putuskan pulang saja balik arah ke Parapat, cari rumah makan padang di sana. Yeah, pantas saja itu kedai kopi di luar area ramai orang, soalnya gak ada lagi pilihan lain.

Wisata The Kaldera Toba

Kesimpulannya?

The Kaldera Toba Nomadic Escape

Bagi yang tinggalnya bukan di Siantar, better jangan datang dulu ke sini, tunggu saja sampai selesai di 2024 atau minimal tahun depan deh. Sayang waktu, sayang biaya juga. Lebih aman ke Danau Toba di Parapat, atau ke Simarjarunjung aja.

Baca postingan lain saya tentang Danau Toba di sini:

  1. Pemandangan Danau Toba dari Bukit Gajah Bobok
  2. Menikmati Sunset di Bukit Indah Simarjarunjung

Sharing is Caring
  • 2
    Shares

by

About Zizy Damanik Passionate in travel, photography, and digital content. Drop your email to hello@tehsusu.com to collaborate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *