6 Cara yang Bisa Ditiru Untuk Mengajari Anak Gaya Hidup Minimalis

Beberapa waktu lalu saya menulis tentang gaya hidup minimalis yang saya coba terapkan di kehidupan saya. Yang saya lakukan adalah berupaya membeli hanya barang-barang yang dibutuhkan atau esensial. Saat membuat keputusan untuk membeli juga dipikirkan matang-matang sebelum membeli, meski sebagian orang ada yang mengatakan ini kelewatan pelitnya.

Mereka yang menerapkan gaya minimalis pastinya hanya memiliki sedikit barang pada akhirnya, seperti juga saya. Akan tetapi, sebenarnya gaya minimalis bukan hanya soal memiliki barang yang sedikit, tapi juga tentang memilih lebih teliti hal-hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan. Seperti selektif memilih tontonan atau acara yang harus dihadiri, termasuk juga misalnya mengatur waktu yang kita gunakan untuk mengonsumsi media sosial.

Sekarang, mengajarkan anak-anak tentang minimalis di era digital sekarang memang sedikit lebih sulit karena saat ini dunia dipenuhi oleh teknologi, dan anak-anak sudah terpapar teknologi sejak mereka kecil.

Mula-mula tentu tidak mudah dan cukup menantang, mengajarkan anak-anak tentang apa dan bagaimana menjalani hidup minimalis, tapi setiap orang tua pasti akan menemukan cara-cara uniknya sendiri tentang bagaimana menjelaskan kepada anak-anak manfaat hidup sederhana dan melepaskan diri dari harta benda yang tidak perlu.

Tulisan ini diharapkan dapat membantu orang tua mengajari anak-anak tentang minimalis dan cara memulai gaya hidup minimalis di rumah.

mengajarkan anak hidup minimalis

Apa Itu Gaya Hidup Minimalis

Pertama, kita ulas sedikit tentang n apa yang dimaksud dengan minimalis. Penjelasan sederhananya, sebuah gaya hidup yang dijalani dengan hanya memiliki  hal-hal yang diperlukan untuk rutinitas sehari-hari saja ketimbang memiliki segala macam barang yang tidak perlu yang hanya akan memenuhi ruangan dan menambah beban hidup.

Minimalisme dapat dipraktikkan dalam kehidupan seperti memilii rumah tidak terlalu besar yang penting cukup untuk anggota keluarga, memiliki kendaraan sesuai kebutuhan, lebih banyak membuat daripada membeli, dan menggunakan barang-barang dasar saja untuk memenuhi kebutuhan.

Dan, ketika sudah memiliki tambahan anggota keluarga baru, maka saatnya juga menyesuaikan diri dengan hal-hal minimalis yang bisa diajarkan pada mereka.

Mulailah dengan mainan

Balita atau anak-anak lebih kecil belum terlalu memahami barang apa yang dibutuhkan, juga tidak tahu konsekuensi memiliki terlalu banyak barang. Kita bisa memulai dengan membuat mainan sederhana dan menggunakan apa yang ada.

Kalau anak-anak bisa bermain dan bersenang-senang dengan mainan murah atau mainan bekas, bagus. Artinya pe-er orang tua jadi lebih mudah. Orang tua dapat memberitahu anak bahwa lebih bermanfaat membuat mainan sendiri atau membeli mainan bekas karena mainan ini tetap bisa dimainkan untuk waktu yang lama.

Saat anak saya masih balita, senang rasanya kalau melihatnya pulang sekolah membawa hasil prakarya yang dibuat dari bahan-bahan yang seadanya. Dengan bangga dia memainkannya, dan karena dia terlhat puas saya tahu bahwa kepuasan bukan terletak pada mainan mahal dan bagus saja. Dia juga senang menggunakan barang-barang  bekas di rumah untuk dibuatnya menjadi sesuatu, seperti kotak bekas odol yang dibuat jadi kotak pensil.

Dengan cara membiasakan mereka melihat apa saja yang biasa mereka lakukan sendiri, mereka jadi bisa lebih menghargai apa yang ada dan tidak akan membuangnya begitu mereka bosan, seperti kalau kita membelikan mereka mainan.

Mengajarkan mereka berkebun

Cara mengajari anak-anak tentang minimalis adalah dengan melibatkan mereka dalam hal berkebun. Cara ini sangat baik karena anak-anak akan punya pemahaman tentang dari mana makanan mereka berasal dan mereka juga bisa belajar mana makanan sehat dibandingkan dengan olahan.

Tak perlu kebun yang luas, sebuah taman minimalis atau bercocok tanam di pot juga bisa. Ini adalah salah satu kegiatan yang dapat dilakukan bersama anak-anak sambil mengajari mereka nilai-nilai kehidupan.

Ajarkan untuk Berbagi dan Menggunakan Kembali Mainan

Minta anak bermain lebih lama dengan mainan baru miliknya sebelum dia berpindah ke mainan lain, kemudian sarankan dia untuk berbagi mainan barunya dengan saudaranya, dan lalu dorong anak untuk bermain lagi dengan mainan lain yang sudah lama tidak dipegangnya. Sekarang karena anak saya sudah besar, secara bertahap mainannya juga berkurang. Sebagian besar sudah kami bereskan, diberikan ke saudara dan ke kerabat, agar semua mainan itu bisa lebih berguna di tempat lain.

Minta Anak Membantu Orang Tuanya Mensortir Barang

Saat parents hendak memutuskan barang mana yang  ada di rumah yang akan dibuang atau tetap disimpan, libatkan anak dan minta mereka membantu memutuskan. Minta mereka memilih barang-barang yang tidak mereka gunakan lagi atau rusak, dan masukkan barang-barang itu ke dalam kotak. Setelah kotak terisi penuh, bawa keluar dan cek ulang lagi bersama. Kemudian buang atau letakkan di tempat sampah.

Gunakan Rak Mainan Kecil Saja

Ini agar kita tidak tergoda untuk mengisi rak mainan anak sepenuh-penuhnya. Bila kita terus mengisi rak mainan anak sampai penuh, mereka akan berpikir bahwa tidak apa-apa memiliki banyak mainan dalam satu waktu meskipun tidak semua akan sering dimainkan.

Mengajar Anak Mencuci Piring Makannya Sendiri

Penting agar anak tahu bahwa nanti akan tiba waktu baginya melakukan semuanya sendiri. Mengajarkan kerapihan pada anak seperti membereskan meja dan mencuci piring makannya akan membawa pengaruh positif kepada bertambahnya rasa tanggung jawab di masa depan nanti.

Sharing is Caring

by

About Zizy Damanik Passionate in travel, photography, and digital content. Drop your email to admin@tehsusu.com to collaborate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *