Danau Toba dan Malam Takbiran di Siantar

 

Sehari sebelum lebaran (lebarannya di Siantar, bukan di Medan), main dulu sebentar ke Danau Toba. Berfoto (again), sampai dikomentarin hubby, “Heran, kayak baru pertama kali ke danau toba aja.” Yang saya jawab dengan,”Gpp, foto untuk syarat aja….” **plis deh, kayak dukun aja….” Tahun ini air danau masih surut juga, tidak seperti 3thn lalu, sempat naik cukup tinggi. Biasanya hari pertama dan kedua lebaran baru ramai, terutama mereka yang memang liburan ke Parapat, karena tidak ada pembantu. Tapi karena ini masih H-1, jadi masih agak sepi.

 

dsc04730a.jpg

Parcel Lebaran

Budaya mengirimkan parcel atau bingkisan hari raya kepada bos di kantor, sanak keluarga, atau untuk rekanan bisnis sudah ada sejak lama. Saya tidak tahu persis kapan kebiasaan ini menjadi tradisi di negara kita ini, but saya pertama kali kenal parcel ketika baru pindah dari Biak ke Medan yang pastinya juga baru pertama kalinya merayakan Idul Fitri di Medan.

teaset.jpg

Tipe-Tipe Polisi

Setelah seratus dua puluh hari jadi penduduk Jakarta, yang sebagian besar waktunya habis di jalan raya, saya suka sekali memperhatikan para polisi. Sampai akhirnya saya coba buat tipe-tipe polisi.

  • Pertama, pagi-pagi kalau saya mau ke kantor, saya kan harus ambil jalur ke kiri — ke Cawang, lalu memutar di Bypass, dan lurus-lurus saja, lalu kemudian ambil kiri untuk masuk jalan Pramuka. Nah, jalanan ini biasanya tidak bisa ditebak kapan macet kapan lancarnya, dan jangan harap ada polisi yang membantu mengatur. Polisi dan tim dishub biasanya hadir jam setengah tujuh lewat untuk berjaga di puteran/belokan — yang menurut saya tidak terlalu butuh diatur, karena puteran yang dijaga itu tidak terlalu macet.

Outbond Training @Santa Monica Resort – Puncak

Tgl 9-10 kemarin, all NCCM team mengadakan outbond training yang mengambil lokasi di Ciawi, Puncak, tepatnya di Santa Monica Resort.

Tema outbond kali ini adalah never ending spirits, jadi we’re all warriors (halaqh..!). Setiap kelompok yang terdiri dari 15 orang akan bersaing mengikuti setiap games yang sudah disiapkan oleh EO. Satu game yang lumayan menantang adalah, memanjat tangga untuk memukul bola yang digantung di ujung daun pohon yang tinggi. Sisi-sisi tangga diikat dengan tali ke setiap arah, dan semua anggota bergotong-royong memegang agar tangga tetap tegak dan bisa dipanjat oleh salah 1 anggota.

Meski permainan ini cukup aman, tapi banyak ce yang sudah panik duluan karena takut akan ketinggian (ya pastilah..!)

Dan yang paling seru tentu saja perang-perangan, karena kami perkelompok akan head to head, sebagian warrior akan kejar-kejaran berusaha mematikan lawan, kemudian sisa anggota yang menjaga benteng akan melempar balon berisi air untuk mengganggu konsentrasi lawan, dan warrior lainnya bertugas mengumpulkan bendera yang tersebar di rumput — untuk menambah poin.

Pembantaian di Kenari

Hmmm..

17-an tahun ini sepi. Gak banyak lomba yang bisa diikutin. Kalau tahun lalu, di Medan, saya masih ikutan futsal dan aerobic. Futsalnya sih kalah, tapi aerobicnya juara II (kalah sama bapak-bapak! hahaha). Sempat membuat rencana pembalasan dendam untuk tahun 2007, atas kekalahan dari tim regional, tapi karena tahun ini saya sudah di Jakarta ya gak bisa ikutan, he he hee.. Tapi tahun ini kurang banyak acara, mungkin karena scoop-nya lebih besar jadi lomba-lomba semacam itu tidak melibatkan semua bagian.

Jadilah tahun ini, saya cuma ikutan berpartisipasi di billiard. Sebenarnya gak pede sih untuk ikutan, secara mainnya juga masih standard banged. I knew I’m good when I stearing at ball, tapi kalo dah mukul, pasti bolanya gedek! Aargghh!! Tapi karena ada iming-iming peserta bakal dapat souvenir glove, terus juga karena dipaksa daftar sama ketua (halah, maksa!), jadilah tadi sore jam 4 saya sudah ada di Kenari Mas Lt. paling atas, untuk ikut penyisihan.

Ayam Goreng Jl Surabaya

Sebagai salah satu penggemar berat ayam goreng, saya pasti selalu mencari-cari tempat makan yang menyajikan ayam goreng. Nah, salah satu yang jadi tempat favorit saya adalah Ayam Goreng Pemuda, di…

Soto Mie & Pis Gor Waroeng Podjok

Suka makan yang berkuah dan panas-panas? Coba datang ke Waroeng Podjok. Ini warung yang — katanya — menyajikan semua makanan tradisional khas makanan warung, cuma bedanya warung yang satu ini bukanya di mall. Ada yang di Sarinah, Plz Semanggi, dan juga Plz. Senayan.

Konsepnya boleh juga, pelayan berpakaian tradisional ala Jawa dengan batik dan kebaya. Lagu yang diputar juga sejenis keroncong Jawa, mengalun pelan menemani tamu menikmati hidangan.

Jakarta Oh Jakarta

Jakarta yang menyebalkan. Berisik, kotor, semrawut, menjijikkan, macet, gak beraturan, dan gepeng dimana-mana. Seminggu lebih jadi penghuni kota Jakarta, ada banyak hal yang saya pelajari (dan masih akan ada lebih banyak lagi).

Seperti pak’ogah- pak’ogah yang berjaga di setiap persimpangan, membantu mengatur jalan bagi kendaraan yang mau muter, dengan harapan diberi gopek. Tipsnya : kalau jalan sepi dan tidak butuh diatur, kagak usah dikasih duit. Trus kalo mobil depan kita udah ngasih duluan, kita ketiban untung klo gak ngasih. Kalau gak ada duit recehan, ya udah gak usah dipaksa. Paling dicemberutin.

Aku Kayak Polisi Ya?

“Ah, itu dia kayaknya.” Batin saya. Toko bernuansa hitam-merah itu terletak di belokan. Grafiran huruf berukuran besar bertuliskan Benteng, hanya sekilas lewat mata saya. Dengan stil yakin, saya melangkah masuk.

Setelah masuk ke dalam toko jewellery itu, barulah saya sadar, saya salah toko. Set dah!! Tapi apa boleh buat, masa iya saya mundur? Biarpun sebenarnya kaki saya tadi sudah berdecit, otomatis ngerem. Hihi…

“Saya cari fashion ring yang simple,” tegur saya pada seorang pramuniaganya. Sudah kepalang basah, sekalian sajalah lihat-lihat di sini. Saya memang sengaja mampir ke MKG, jalan-jalan menghabiskan waktu sebelum pulang ke rumah.

Ketemu Anak Medan di Sarinah

Kemarin sore aku ke Sarinah (okay… plz, don’t laugh… soalnya itu paling deket dari kantor), nyari-nyari sumthin again, dan selalu saja kelupaan 1-2 barang yang mau dibeli setelah sampai di sana.

So, waktu lagi ngantri di kasir, saya lihat kanan kiri dan loh kok… itu? Itu? Kok kayak kenak ya?? Loh, itu Mbak Hani dan Kak Icam! Ngapain mereka? Kok bisa di sini? Ada training? Atau ada kerjaan? Ato jalan-jalan aja?
“Mbak Hani..!!” teriak saya. Bodo’ dah, semua mata sontak menoleh ke arah saya, tapi orang yang dipanggil melenggang cuek. Mau meninggalkan antrian, gak mungkin karena saya sudah mengeluarkan kartu kredit. Waduh, gimana sih?? Saya buka tas dan mengambil hape. **berapa ya nomor mb hani? Emm.. 081630.. sekian sekian** Tes aja langsung biar tahu. Mudah-mudahan bener. (sbnrnya ada sih di phonebook, cuma ga sempat sortirnya lagi). Eh, gak diangkat juga. Hayahhh….