Kerja Remote Memang Enak, Tapi Sering Butek Juga Lho!

Siapa yang sudah semakin terbiasa WFH karena pandemi COVID-19? Pasti rasanya mulai enggan kembali masuk kantor dengan jam kerja tetap kan? Di sisi lain, pandemi ini juga membawa perubahan pada banyak perusahaan yang mulai menerapkan sistem kerja remote bagi karyawannya.

Para pekerja lepas seperti juga saya memang sudah terbiasa dengan yang namanya kerja remote. Namun karena pandemi yang membuat kita memang tidak bisa kemana-mana, rasanya butek juga lho selama setahun lebih ini kerjanya di rumah saja. Haha… Eh lanjut dulu deh.

tetap produktif saat kerja remote

Apa itu kerja remote, terus apa sih kelebihan kekurangannya?

Remote working atau kerja jarak jauh berarti fleksibilitas untuk bisa bekerja dari mana saja di luar lingkungan kantor tradisional, baik karena faktor jarak dari tempat tinggal ke kantor, faktor perjalanan (masih ada di luar kota), atau juga karena pilihan. Ada yang kerja remote full time tapi ada juga yang hanya menggunakan sebagian waktunya saja untuk kerja remote.

Kalau dulu saat masih gawe di telco, kerja remote termasuk yang sering dilakukan di beberapa divisi tertentu, seperti bagian network, customer care, dan divisi saya dulu, digital. Seringnya kerja remote di masa itu tuh bukan karena pilihan, namun memang itu bagian dari tanggung jawab. Contoh, kalau menjelang hari raya, baik Idul Fitri ataupun saat Natal dan Tahun baru, network jelas tidak boleh ditinggal. Maka pasti para karyawan tetap cuti atau liburan membawa laptop, sehingga in case sewaktu-waktu ada masalah jaringan, bisa di-remote dari jauh. Kerjaan di digital juga begitu. Biasanya saat peak, keluhan dan komplain pelanggan banyak, dan tugas kami memantau secara real time apakah ada conversation yang mengarah pada sentimen negatif terhadap perusahaan. Setiap beberapa hari harus mengirimkan report ke manajemen.

Selama tiga tahun belakangan, remote working memang menjadi impian generasi milenial dan gen Z. Idaman banget kan, tidak perlu pergi ke kantor setiap hari, tidak terikat jam kantor, dan bebas mau kerja dari mana saja.

Dan ya, ini ternyata sangat memikat ketika saya keluar dari telco dan terjun menjadi pekerja freelance, karena rasanya nikmat betul bisa kerja dari rumah, mengatur sendiri kapan mau libur, dan kapan ke kantor, padahal kakak ini bukan milenial apalagi gen z. LOL.

Kerja Remote, Kelebihan dan Kekurangannya

Karena pandemi, mendadak semua (oke, hampir semua) harus kerja remot, kerja di rumah aja. Sebenarnya kerja remote itu yay or nay sih? Ya kita coba breakdown satu-satu ya. Bekerja dari rumah jelas memiliki banyak benefit, seperti berikut ini yang coba saya buat berdasarkan yang dirasakan, bisa jadi cocok ini buat siapa pun.

Benefit kerja remote

  • Gak ada yang namanya waktu perjalanan

Saat bekerja dari rumah, kalian bisa tidur lebih lama karena tak harus buru-buru bangun demi mengejar jam masuk kantor. Lalu juga menghemat uang untuk bensin atau ongkos kereta dan ojek.

  • Gak ada pakaian kerja

Pakaian apa coba yang paling enak selain pakaian rumah? Yaaa mungkin sesekali saat meeting harus pakai baju yang agak rapi, tapi itu hanya atasan saja. Bawahan tetap celana rumah, longgar dan nyaman. 🙂

  • Kita bisa memilih sendiri lingkungan kerja yang nyaman buat kita

Tidak semua kantor punya konsep desain ruangan yang nyaman untuk karyawan, dan bagi yang beruntung kerja di perusahaan teknologi atau startup mungkin ruang kantornya juga enak dan nyaman sekali. Tapi kalau kerja remote, kalian yang akan mengatur sendiri lokasi dan posisi ternyaman untuk mendukung efisiensi kerja. Mau kerja di teras balkon di samping rak tanaman sambil mendengarkan musik dan main dengan kucing, bebas!

kerja remote bisa kerja di mana saja

  • Ada banyak waktu untuk untuk mengurus tanaman

Buat yang hobi tanaman, setiap pagi atau sore jadi bisa rutin kan mengurus tanaman?

  • Ada banyak waktu untuk memasak

Kalau kerja ke kantor, seringkali masak baru bisa dilakukan saat pulang kantor (itu juga kalau gak pesan delivery food), sehingga mau mencoba macam-macam resep pun menunggu weekend. Kalau kerja remote? Bisa setiap hari memasak.

  • Terbuka kesempatan buat pekerjaan sambilan

Bagi yang bekerja sebagai pekerja part-time atau pekerja lepas, fleksibilitas dalam mengatur waktu berarti terbuka pula kesempatan untuk mencari project baru lainnya. Yang kerja inhouse pun bisa juga begitu selama waktunya masih cukup (tidak back to back meeting), kalau ada keahlian menulis atau desain, bisa saja menerima pekerjaan sebagai content writer atau graphic designer, selain kerja kantoran.

  • Lebih sedikit stres

Iya, ini benar. Faktanya sebuah studi yang dilakukan oleh Mental Health America terhadap responden yang kerja remote, menunjukkan bahwa menurut para responden, kerja jarak jauh dapat membantu mereka mengurangi stres akibat perjalanan dan meningkatkan produktivitas dengan mengurangi gangguan selama hari kerja, dan interupsi dari rekan kerja. Mereka juga hepi karena kerja remote berarti jauh dari politik kantor. Nah siapa yang mau share cerita tentang politik di kantor yang nyebelin? 🙂

Meskipun studi di atas dilakukan di US, tetap related dong dengan kita di Indonesia. Di sana, rata-rata waktu perjalanan ke tempat kerja dengan komuter adalah 27 menit, dan mereka sudah bilang itu stressful. Jadi kalau kita di Indonesia (khususnya kota-kota besar) menghabiskan waktu minimal 1 jam untuk sampai ke kantor, seperti apalagi stresnya? Haha… jadi, bahagia dong kalau bisa kerja remote? 

So yeah, kerja remote terbukti berpengaruh positif terhadap kesehatan mental.

Ok. Itu tadi benefitnya. Lalu apakah ada kekurangan kerja remote? Pastilah. Pekerjaan jarak jauh pun ada kelemahannya. Berikut ini:

Kelemahan Kerja Remote

  • Banyak distraksi

Gangguan-gangguan seperti TV, HBO GO, Netflix, iTunes, PlayStation, PSP, lalu board game, buku komik, makan, tidur. Lalu jangan lupakan media sosial yang pengen dibuka terus, grup WhatsApp yang berbunyi setiap saat. Dan tentu saja yang memiliki anak kecil di rumah, meskipun ini anak, tetap bisa disebut sebagai salah satu distractions saat kerja remote.


Baca juga: Tips Tetap Waras Saat Bekerja Dari Rumah Sambil Mengurus Anak


  • Putus hubungan dan kesepian

Awalnya memang menyenangkan karena tidak harus berpakaian rapi dan dandan lengkap untuk ke kantor, tapi setelah beberapa waktu pasti mulai terasa ‘sepinya’, mulai kangen dengan teman kantor, dan merindukan energi dari orang lain secara umum. Kerja remote bisa pun butuh sesekali berinteraksi dengan orang lain, entah di kafe atau di co-working space, namun karena pandemi, tentu pilihan untuk kerja remote dari rumah sudah paling yang benar.

  • Suka ada masalah komunikasi

Ketika semua anggota tim tidak berada di lokasi yang sama, maka mendapatkan jawaban atau feedback terkait project misalnya, seringkali tidak bisa real time. Pasti akan butuh beberapa waktu. Apalagi kalau ada perbedaan zona waktu, misalnya kita ada di Indonesia sementara kliennya di US. Seringkali juga masalah jaringan internet yang membuat proses diskusi bersama tim jadi bermasalah. Masalah komunikasi suka berujung pada kecurigaan bahwa salah satu pihak ada yang tidak produktif atau lama dalam memberi jawaban, biasanya klien atau bos yang sudah stres karena deadline.

  • Masalah kebersihan

Kalau di kantor, ada petugas yang rutin membersihkan ruangan kantor, mengangkat dan mencuci piring gelas. Kalau di rumah, di satu sisi karena harus mengejar target pekerjaan, segala sesuatu dibiarkan begitu saja. Gelas dari pagi tetap bisa dipakai sampai sore. Celana longgar yang sudah tiga hari tidak dicuci demi menghemat jadwal mencuci baju. Apalagi pas pandemi, mau lari ke kafe kan gak bisa, jadi di rumah mungkin jadi lebih berantakan. Lalu jadi malas mandi, mungkin cuma sekali sehari mandi. Tumpukan kerjaan kantor dan kerjaan rumah bersaing. Ya gak semua tentu saja.

Tips Sukses Kerja Remote Agar Tetap Produktif dan Gak Butek!

tips agar sukses kerja remote

Suatu saat sebelum pandemi saat kerja remote di sebuah kafe.

Jadi bagaimana ya caranya agar setelah beberapa lama (oke, setelah setahun lebih) kerja remote, kita gak akan menjadi couch potato atau si penunda yang suka ngejar deadline di akhir-akhir waktu? Semua pasti pengen jadi orang yang termotivasi untuk menyelesaikan tugas secara efisien. Ada beberapa tip yang semoga dapat membantu.

1. Lakukan rutinitas pagi yang menyenangkan

(Ini benar, lho. Udah deh, jangan bilang ini basi)

Janganlah setiap bangun pagi langsung periksa media sosial. Sekadar periksa ponsel untuk mengecek apakah ada pesan penting dari keluarga atau atasan tidak apa, tapi sebentar saja.

Setelah itu isi pagi hari dengan sedikit olahraga, sarapan yang enak, mendengarkan musik, bermain dengan Si Kecil atau hewan peliharaan, mandi yang lama sampai segar, baru cek ponsel. Itu dia salah satu cara menjadi produktif selama di rumah.

2. Tetap jaga penampilan dong ah!

Begini. Kerja remote dari rumah bukan berarti seharian pakai daster atau tidak dandan, atau tidak mandi! Mengenakan pakaian yang rapi tapi nyaman akan membuat mood jadi lebih baik untuk bekerja seharian. Telat bangun karena semalaman mengejar deadline lalu mendadak pagi harus online meeting? Ya sebaiknya tetap mencuci muka, menyikat gigi, dan ganti dengan pakaian bersih, setiap hari. Hindari deh kerja pakai piyama.

3. Jangan kerja dari tempat tidur

Kamar tidur memang tempat yang paling nyaman, tapi kalau seharian ada di kamar, terus-terusan di atas kasur, siang dan semalaman, lama-lama kalian akan merasakan penurunan energi, dan yang terburuk ya sakit punggung. Bagi yang lajang dan tinggal di apartemen mungkin pilihan tempat kerja tidak banyak, ya. Tapi percayalah, kamar tidur itu untuk bersantai dan istirahat, bukan untuk bekerja.

4. Tetap patuhi rutinitas harian

Penting untuk tetap berada dalam rutinitas pekerjaan setiap hari. Sekali saja kalian lepas dari rutinitas itu, kalian malah jadi harus kerja ekstra untuk mengejar yang sudah tertinggal tadi. Untuk menjaga keseimbangan gaya kerja remote yang sehat, buatlah kapan jam kerja seharusnya berakhir dan patuhi.

5. Makan sesuai dengan jadwal dan harus cukup

Kalau kerja kantoran bawaannya pengen pesan makanan kan? Kalau di rumah, sebaiknya masak. Selain lebih hemat, kita juga bisa mengatur kebutuhan gizi untuk seharian bekerja. Makan teratur dan cukup, tidak usah terlalu banyak, dan terlalu kenyang juga.

6. Sediakan waktu untuk ngobrol sama teman dan rekan kantor

Begitu sudah kerja remote, mudah sekali kehilangan kontak dengan teman dan rekan kantor. Terutama kalau yang masih single, rasa kesepian akan sangat terasa karena kehilangan banyak kontak dengan orang lain. Sediakan waktu rutin mungkin setiap seminggu sekali untuk mengobrol secara virtual melalui Gmeet atau FaceTime dengan rekan kantor atau teman-teman dekat. Ini sangat membantu membuat diri kita merasa lebih aktif secara sosial.

Kerja Remote – Tools apa saja yang dibutuhkan

Ingin produktif dan efisien, oke. Lalu agar bisa tetap efisien selama di rumah aja, tentu bukan hanya persiapan secara strategis dan mental, tapi support teknis juga harus ada. Berikut ini:

  • Komputer atau laptop – Pekerja kantoran memang disediakan komputer dari kantor, tapi para freelancer tentu tidak. Semua pekerja remote butuh komputer yang efisien dan tahan banting. Alias, bila harus buka banyak screen, gak langsung nge-lag.
  • Headphone peredam bising – Semua orang bilang ini adalah penyelamat. Beberapa teman saya menggunakan ini untuk menyelamatkannya saat harus meeting online dengan bos-bos. Suara kendaraan yang bising, anak-anak yang lagi main teriak-teriak, sampai suara tukang roti, lewat semua!
  • Screen tambahan – Berjam-jam di depan laptop dalam sehari akan menguras energi lumayan termasuk risiko sakit punggung. Kalau ada budget lebih, boleh juga beli screen tambahan yang lebih besar.
  • Meja dan kursi yang nyaman – Pasti ini. Ingat, sayangi punggung.
  • Adaptor USB – Kabel untuk mengisi daya smartphone, mungkin ada beberapa, lalu untuk colokan kipas portable, keyboard, dll akan butuh satu adaptor untuk support semuanya.
  • Sinyal WI-FI yang kuatYeaa… baeklahhh!
  • Video meeting apps – Minimal Zoom harus sudah terinstal di komputer. Kalau mau lebih simpel, bisa menggunakan Gmeet. Ini yang biasa saya gunakan untuk melakukan virtual hangout dengan teman-teman.
  • Messenger App versi Desktop
  • Perangkat lunak antivirus – Ini sangat penting bagi yang bekerja menggunakan komputer pribadi. Jaga semua data agar tetap aman.

Apakah sudah ada semua tools di atas? Kalau kalian butuh rekomendasi, silakan baca artikel rekomendasi perlengkapan kantor untuk kerja dari rumah.

Kerja remote: Dukungan yang Diharapkan Pekerja dari Perusahaan

Dari hasil mengobrol dengan teman-teman yang harus kerja remote karena pandemi, sebagian besar mengatakan bahwa perusahaan tempat mereka bekerja sangat mendukung untuk pekerjaan jarak jauh. Seperti memberikan bantuan akses internet, lalu pemberian bonus karena sudah bekerja dari rumah selama pandemi, hingga membayarkan secara rutin biaya tes antigen atau PCR untuk karyawan yang mendadak harus hadir ke kantor.

Tapi di sisi lain ada juga teman yang perusahaan tempatnya bekerja tidak mendukung sistem kerja remote, sehingga meski di tengah pandemi, dia tetap harus ke kantor (tentunya ada prokes).

Apa sih yang diharapkan oleh para pekerja remot?

Kerja di rumah memang sekarang terasa lebih nyaman, semua mengakuinya. Namun agar bisa terus berjalan baik, yang diharapkan oleh para pekerja remote itu adalah fleksibilitas. Sebab berapa dari pekerja remote banyak yang memiliki anak yang juga tidak bisa kemana-mana dan stres karena pandemi. Susah bangun pagi, lalu malas-malasan sekolah.


Baca juga: 7 Tips for Struggle Teenagers during Distance Learning


Perusahaan juga kadang suka lupa, bahwa waktu bekerja tidak boleh dicampur adukkan dengan waktu bersantai, sehingga alih-alih memiliki waktu lebih banyak saat di rumah, waktu bekerja malah dibuat lebih padat merayap. Ada yang masih harus mengerjakan proposal sampai tengah malam, lalu tidak ada waktu saat weekend buat keluarga.

Perhatian dari perusahaan atau pemberi kerja pun bisa menjadi penyemangat bagi karyawan yang kerja remote. Saya masih ingat seorang teman saya bercerita dengan nada bahagia karena dia mendapatkan kiriman bunga ucapan selamat atas kelahiran bayinya dari VP tertinggi di grupnya. Dia tak menyangka karena merasa jarak antara jabatannya dengan si bos sangat jauh, jadi perhatian kecil itu adalah hal yang besar buatnya. Nice.

By the way…. Intinya adalah..

Agar kerja remote menjadi lebih efisien dan produktif, selama semua aturan di bawah ini lengkap atau saling melengkapi, maka semuanya lancar. Dukungan perusahaan, hubungan antar manusia, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, tempat kerja yang nyaman, dan tools pendukung.

Bagaimana? Yang sudah kerja remote selama setahun lebih, boleh sharing ya pengalaman suka dukanya!

-zd-

Sharing is Caring
  • 4
    Shares

by

About Zizy Damanik Passionate in travel, photography, and digital content. Drop your email to admin@tehsusu.com to collaborate.

One thought on “Kerja Remote Memang Enak, Tapi Sering Butek Juga Lho!

  1. Melakukan rutinitas pagi yang menyenangkan itu ampuh banget, Mbak Zy. Semacam persiapan sebelum mulai berkarya. Kalau langsung hajar aja, rasa bosan cepet banget munculnya. 😀

Comments are closed.