160 Kosa Kata Bahasa Medan Buat Bekal Jalan-jalan ke Medan

Spread the love

Pengen cerita ah tentang Medan, kota yang saya tinggali sebelum Jakarta. Kalau dihitung-hitung, lama saya tinggal di Medan 20 tahun, lalu pindah ke Jakarta sampai sekarang sudah 13 tahun lebih.

Banyak teman lama di Medan bertanya, kira-kira saya masih ingin kembali tinggal di Medan gak nanti kalau sudah pensiun? Ya saya jawab belum tahulah, tengok situasi dululah ya kan?

Terus kan, meskipun udah lama di Jakarta, tapi kalau pas lagi nongkrong di mana gitu, suka ketemu aja gitu orang Medan yang langsung bikin saya kangen sama Medan.

Seperti bulan lalu saat saya dan Vay mampir ke kedai kopi di KoKas untuk membeli choco chip frappucino Vay. Saat itu kami sudah duduk di kursi yang memang sudah diatur jaraknya mengikuti aturan physical distancing. Lalu datanglah dua perempuan muda yang lalu duduk di seberang kami.

Tak lama mereka mengobrol, dengan suara sedang tapi gak terlalu pelan, dan telinga saya langsung terbuka. Keknya orang Medan ini, begitu batin saya. Eh malah saya keterusan mau nguping haha…

Lalu teringat juga pada kejadian setahun yang lalu. Waktu itu masih di kedai kopi yang sama, saya lagi duduk sebentar menunggui Vay yang sedang santai minum. Lalu sebelah kami, pas empat orang cowok cewek mengobrol dengan suara kencang. Telinga saya sudah kebuka dong pastinya, tapi yang harus digarisbawahi adalah anak saya yang langsung refleks menoleh ke arah mereka karena kaget dengan suara kencang dan dialek yang khas, lalu balik memandang saya sambil senyum lebar. “Teman Mami,” katanya. LOL.

Teman-teman dekat saya di Jakarta ini sering salah mengira kalau saya dan keluarga di rumah pasti ngomongnya pakai bahasa Medan (atau dikira mereka pakai bahasa Batak). Bisa jadi mereka pada mikir begitu karena selama bergaul dengan mereka saya rajin mengeluarkan sisi orang Medan saya, dan juga gaya bataknya. Ini baru kira-kira tujuh-delapan tahun belakangan saja saya semakin rajin balik ke gaya Medan, gara-gara saat itu ada anak baru asal Siantar, Bernad yang baru masuk divisi kami. Begitu dia tahu kami satu kampung, langsung keluarlah kan bataknya. Saya pun jadi ketemu teman, dan akhirnya bisa mengeluarkan kangennya ngomong Medan. Lalu ketika ada teman sekantor, Nessa, dinas ke Medan dan dia ngomongnya “kebatak-batakan dan ke-medan-medanan”, orang Medan bingung kok bisa ini orang Jakarta jago kamus bahasa Medan. Terus teman saya bilang, “Tahu dari KakZy lah!” LOL. Terus yang di Medan bilang heran kok bisa semua jadi terikut-ikut karena si Zizy? Padahal selama di Medan dia gak terlalu kelihatan Medan-nya. Selolahhh….

Tapi sesungguhnya, di rumah tidak ada yang ngomongnya kek orang Medan atau kebatak-batakan, selain saya. Ayahnya Vay (meskipun batak) aslinya besar di Jakarta jadi gak bisa dia sok-sok jadi orang Medan, pasti kaku, gak cocok. Mending gak usah sok jadi orang Medan daripada diketawain. Vay apalagi.

Di rumah opung Vay di Medan, kita ngomongnya campur, mixed antara bahasa Medan dan bahasa Papua. Buat yang belum tahu, mami saya keturunan Ambon dan sebelum pindah ke Medan kami tinggal di pulau indah di Papua, pulau Biak.

Bahasa Orang Medan bukan Bahasa Batak

Saya bilang begini karena masih banyak yang mengira Medan itu kota orang batak. Padahal kota Medan itu terdiri dari banyak etnis, dan meskipun kita sering ketemu orang bermarga di Medan, belum tentu ngomongnya batak. Kalau orang Medan pasti ngomongnya pakai bahasa Medan yang sudah tercampur dengan bahasa melayu, sementara kalau mau dengar orang batak asli ngomong ya main-mainlah ke Pematangsiantar, itu yang paling dekat.

Awal pindah ke Medan, saya dan abang saya yang masih bocah dibuat terkejut-kejut dengan bahasa ajaib orang Medan. Nanti di bawah saya akan tuliskan kosa kata bahasa Medan sehari-hari yang wajib diketahui sebelum traveling ke Medan ya.

Sebelumnya saya akan menceritakan dulu pengalaman abang saya saat mau membeli sate di sebuah warung, di beberapa malam pertama kami menempati rumah di Komplek Gaperta, Medan.

Jadi di warung itu ada ibu-ibu tua yang menjual sate di panggangan kecil di lantai, jadi bukan dengan gerobak ya. Abang saya lalu bilang ke papi kami kalau dia mau mencoba sate itu, penasaran itu sate apa. Ya maklumlah kami dari kota kecil tentu sangat excited mencoba hal-hal baru di kota besar.

“Ya sudah sana, coba tanya,” begitulah kata papi kami waktu itu. Lalu pergilah abang saya ke sana. Eh tak sampai lima menit dia kembali dengan terengah-engah dan raut wajahnya penuh rasa terkejut.

“Kenapa?” tanya Papi.

“Katanya itu sate kera, Pi!” kata si abang. (dengan logat Irian yang kental)

Kami semua kaget mendengar itu. “Issh… orang Medan kejam-e… masa dong biking sate dari monyet?” (Bahasa Papua, dong = mereka, biking = bikin)

Tak lama kemudian papi kami mendapat info akurat, kalau itu bukanlah sate kera, tapi SATE KERANG! Hhahaha :))

Pada akhirnya kami pun tahu bahwa sate kerang adalah juga jajanan khas Medan yang terkenal. Tak jarang jadi bekal oleh-oleh selain duren, bika ambon, bolu meranti, teri medan, dannnn lain-lain. Gak usah kusebutlah semuanya ya, banyak soalnya kuliner Medan.

Baca ini juga ya woi: Tempat Wisata di Medan yang Wajib Dikunjungi

Sebagai bocah yang pindah dari pulau terujung Indonesia ke kepulauan yang juga paling ujung Indonesia, kami tentu beradaptasi dengan bahasa Medan yang kemudian sekarang melekat dalam diri kami. Kami juga bergaul dengan anak-anak Medan dengan ragam suku yang juga penasaran dengan kami, teman-teman baru yang baru datang dari pulau yang nun jauh di sana, Irian Jaya. Saat itu juga saya baru sadar bedanya Tionghoa Medan dengan Tionghoa di Biak atau Jakarta. Kalau di Medan mereka bicara pakai bahasa aslinya hokkien, tapi kalau di Biak, semua pakai bahasa lokal, ya kurang lebih sama dengan di Jakarta atau di Jawa.

Dan ternyata, orang Medan juga suka menyingkat-nyingkat kata seperti kami di Papua, tapi bahasa Medan jauh lebih beragam karena ada unsur melayu di dalamnya. Dan karena begitu beragamnya budaya di Medan, jadi sangat lumrah sikap kesukuan cukup kuat. Orang Tamil Medan bisa pakai bahasa sendiri, orang Tionghoa Medan juga begitu, tapi untuk sehari-hari semua pakai bahasa Medan yang sama.

kamus bahasa medan

Yang suka bikin saya mengernyitkan dahi adalah kalau ada orang Medan, di Medan, tapi sok becakap lu gue. Lu gue itu dipakai kalau kau di Jakarta, pas kau balek Medan, ya normal ajalah, kan kau orang Medan.

Eh eh pernah nih, udah lamaaaa sekali, waktu saya masih di Medan, mau cetak foto, jadi saya masuk ke tempat cuci cetak, terus langsung ke bagian CS, karena kan memang gak ada nomor antrian. Itu ya terserah CS-nya nanti yang harusnya kasih nomor, dong. Waktu saya jalan ke depan, terdengar suara berbisik tapi cukup kuat berasal dari kursi berderet di dekat pintu masuk tadi. “Dasar orang Medan.” Maksud dia itu, karena dianggapnya saya gak tahu antri. Saya menoleh sekilas lalu balik lagi menghadap CS sambil berkata juga cukup kuat, “Hhmpph….yaelah kayak dia bukan orang Medan aja.” Gak usah tipulah, dari cakapnya udah tahu awak dia orang Medan. LOL.

Lagipula apa hubungannya orang medan sama gak tahu antrian? Di mana-mana juga banyak kelakuan orang gak antri.

Kamus Bahasa Medan dan artinya

Oke sekarang ini dia kamus bahasa Medan. Semoga cukup ini buat dihapal sebelum jalan ke Medan.

  1. Aci: boleh. “Enggak aci la woi kayak itu.” Gak bolehlah kayak gitu.
  2. Alamak: Alah Mak. Ini kosa kata terikut-ikut film P. Ramlee yang memang terkenal di Medan berkat siaran TV3
  3. Alip: permainan petak umpet. “Main alip yok woi..”
  4. Awak: saya/kamu juga bisa. “Awak masih di rumah ini, bentar lagilah meluncur.”
  5. Anak mudanya: sebutan buat jagoan dalam film. “Weees datang anak mudanya.”
  6. Angek: iri, cemburu
  7. Balen: bagi atau minta
  8. Baling: error, rusak. “Udah baling kawan itu, becakap sendiri dia kutengok.”
  9. Bedangkik: pelit
  10. Begadang: maksudnya kerupuk kulit segi empat warna coklat
  11. Belacan: terasi
  12. Bengak: bego
  13. Betor: becak motor
  14. Bereng: melirik dengan tajam. “Alamak, diberengnya aku tadi.”
  15. Berondok: sembunyi
  16. Beselemak: belepotan. “Beselemak kali kau makan.”
  17. BK: sebutan untuk mengatakan nomor polisi, “Berapa BK mu?”
  18. Bocor alus: agak gila (sedeng)
  19. Bonbon: permen
  20. Bos: sebutan buat orang tua kita (bapak/ibu). “Gimana kabar Bos? Sehat?” Gimana kabar bapakmu, sehat?
  21. Cak: coba…. “Cak mainkan dulu.”
  22. Cakap: omong. “Banyak kali cakapmu.”
  23. Cakap kotor: omong kotor
  24. Celat: cadel
  25. Celit: pelit
  26. Cemana: macam mana? Bagaimana?
  27. Cetek: dangkal
  28. Cengkunek: gaya, omong kosong. “Banyak kali cengkunekmu.”
  29. Cop: ucapan saat mau berhenti melakukan sesuatu. “Coplah aku, capek.”
  30. Deking: orang andalan yang membantu di belakang. “Siapa dekingmu? Kok cepat kali beres urusanmu di kantor itu?”
  31. Demon: demonstrasi
  32. Dongok: bodoh
  33. Ecek-ecek: pura-pura
  34. Enceng: selesai. “Udah enceng kami main.”
  35. Eskete: gak bekawan, musuhan. “Esketelah kita.” Biasanya anak kecil kalau berantem ngomongnya gitu.
  36. Gacok: jagoan andalan. “Mana gacokmu. Ayo main kita.”
  37. Galon: pom bensin
  38. Gecor: mulut ember, gak bisa simpan rahasia
  39. Gedabak: sebutan untuk “badan yang besar”
  40. Gerot: singkatan dari gegar otak, kata ini digunakan untuk mengatakan orang yang agak aneh tingkahnya
  41. Gelek: ganja
  42. Getek: genit
  43. Golek-golek: tidur-tiduran
  44. Gondok: dongkol. “Gondok aku dibuatnya.”
  45. Goni botot: abang gerobak butut, biasa lewat depan rumah sambil teriak “Booouuttt…. Botuttttt”
  46. Gosok/menggosok: menyetrika
  47. Guli: kelereng
  48. Hajab: mampus, hancur. “Hajablah aku nanti dimarahi mamakku, ilang uangnya kubuat.”
  49. Honda: sebutan untuk sepeda motor merek apa aja.
  50. Ikan laga: ikan cupang
  51. Kaco: kacau
  52. Kali: sekali, banget
  53. Kamput: merek minuman keras Kambing Putih, jadi kalau mau bilang orang lagi mabok, “Rame-rame kutengok orang itu lagi minum kamput.”
  54. Kedan: teman, sohib
  55. Kede sampah: kedai yang jual macam-macam sampai jualan sayuran
  56. Kede Aceh: warung kelontong (sebab dulu yang biasa berjualan kelontong kebanyakan orang Aceh)
  57. Kek: kayak, biasa disambung dengan kata mana. “Kek mananya kau kerja? Kok gak siap-siap kerjaanmu?” Siap= selesai
  58. Kelen: kalian
  59. Keling: hitam. Suka dipakai untuk menyebut suku India Tamil di Medan tapi juga dipakai untuk mengejek teman yang kulitnya gelap (saya contohnya dulu diejek keling juga)
  60. Kelir: pensil warna
  61. Kepling: kepala lingkungan (di Sumatera gak banyak pake istilah RT RW ya)
  62. Keplor: kepala lorong
  63. Kereta angin: sepeda
  64. Kereta: sepeda motor
  65. Kocik: kecil.
  66. Kombur: Ngobrol atau bercakap-cakap
  67. Kondor: Longgar
  68. Kongsi: Bagi-bagi. “Beli satu aja, kongsi kita.”
  69. Kopek: kelupas
  70. Koyak: Sobek, robek
  71. Langgar: Tabrakan/tabrak.
  72. Lantak: habis
  73. Lengkong: cincau hitam
  74. Lepuk: pukul. “Kena lepuk dia sama orang di kampung sebelah.”
  75. Lewong/leyong: hilang, raib. “Leyong udah uangku dibawa lari.”
  76. Ligat: lihai, lincah.
  77. Limper: lima perak, dulu dipakai untuk uang logam pecahan Rp 5
  78. Limpul: lima puluh perak, Rp50
  79. Limrat: lima ratus, Rp500
  80. Loak: Payah, jelek, berantakan. “Loak kali kawan itu sekarang.”
  81. Longoh/longor: bodoh, tolol
  82. Lorong: gang. Makanya tadi ada keplor
  83. Manipol: Mandailing polit. Entah kapan istilah ini ada, jadi orang yang pelit disebut manipol apalagi kalau ternyata dia orang mandailing, padahal sifat pelit mah bisa dari suku mana saja
  84. Melalak: keluar terus, jalan terus
  85. Mengkek: manja
  86. Mentel: centil
  87. Mentiko: belagu, suka cari masalah
  88. Merajuk: ngambek
  89. Mereng: miring
  90. Merepet: mengomel
  91. Minyak: bensin. “Patutlah mogok, habis pulak minyaknya.”
  92. Minyak lampu: minyak tanah
  93. Minyak makan: minyak goreng
  94. Monja/monza: sebutan untuk daerah di jalan Monginsidi, yang menjual pakaian dan barang2 bekas impor, disebut Mongonsidi Plaza, tapi sekarang setiap penjualan baju bekas di Medan sekitarnya disebut “monza”.
  95. Motor: mobil
  96. Nampak: Terlihat, kelihatan. “Nah, udah nampak itu gunungnya dari sini.”
  97. Nembak: kabur. “Habis makan, nembak kawan tu.” Habis makan kabur gak bayar.
  98. Ngeten: mengintip
  99. Nokoh: menipu. “Nokoh aja dia kerjanya,” menipu saja kerjanya dia.
  100. Orang itu: mereka. “Udah capek kali awak bilangin Kak. Tetap gak mau dengar orang itu.”
  101. Oyong: limbung, keleyengan
  102. Pajak: pasar. Pajak Petisah, Pajak Sambas
  103. Pala: tidak terlalu. “Gak pala bagus juga barangnya.”
  104. Palar: demi, dibela-belain
  105. Panas: demam. “Anakku lagi panas ini.”
  106. Panglong: toko bangunan
  107. Pangkas: sebutan untuk potong rambut
  108. Paret: got besar, parit
  109. Pasar: jalan
  110. Paten: bagus, hebat
  111. Paok: bodoh
  112. Payah: susah. “Soal ujiannya payah kali.”
  113. Pekak: tuli
  114. Perli: menggoda cewek
  115. Pesong: tidak waras
  116. Pinggir: kalo naik angkot mau menepi teriaknya gini: Pinggir Bang!
  117. Ponten: nilai
  118. Porlep: sebutan untuk tukang angkut barang di bandara
  119. Raun-raun: jalan-jalan, keliling-keliling kota
  120. Rupanya: ternyata
  121. Recok: berisik
  122. Rol: mistar, penggaris
  123. Sedeng: gila, sinting
  124. Selop: sandal
  125. Selow: slow, lambat
  126. Semak: berantakan, tak terurus. “Pangkaslah rambutmu, semak kali kutengok.”
  127. Semalam: Kemarin (mau pagi, siang sore, malam atau dini hari tetap dikatakan semalam)
  128. Sengak: ketus!
  129. Sepeda janda: sepeda jaman dulu yang besar itu
  130. Setip: penghapus
  131. Sewa: digunakan oleh supir angkot atau betor sebagai pengganti kata penumpang. “Mau cari sewa dulu hari ini.”
  132. Siap: selesai. “Aku udah siap makan, ni. Pergi kita yok.”
  133. Sikit: sedikit
  134. Silap: keliru, salah
  135. Simpang: pertigaan atau perempatan jalan
  136. Somboy: buah kering asinan cina yang terkenal di Medan, rasanya asem-asem dan berwarna merah
  137. Sor: suka
  138. Stedy: keren. “Lu orang stedy terus ya, gayanya oke.”
  139. Sudako: angkot paling legendaris di Medan, pintunya bukan samping tapi belakang
  140. Tahapahapa: entah apa-apa. Merujuk pada orang yang susah dipahami perbuatan atau perkataannya. “Tahapa-hapalah kawan tu cakap. Gak ngerti aku.”
  141. Tarok: letakkan
  142. Teh tong: air minum biasa
  143. Teh manis dingin (mandi): es teh manis
  144. Tenggen: mabok
  145. Tepos: bokong rata
  146. Tepung roti: tepung terigu
  147. Terge: peduli. “Gak ditergenya aku dari tadi, lho.”
  148. Tekongan: tikungan
  149. Tengok: lihat atau maksudnya adalah perhatikan baik-baik. Contoh kalau lewat toko akan dipanggil begini, “Masuklah Kak. Tengoklah dulu, mana tahu cocok.”
  150. Tokok: jitak. “Mo kutokok kepalanyalah. Bikin khawatir orang aja ngilang gak ada kabar.”
  151. Tonggek: bokong besar
  152. Toyor: pukul
  153. Tukam: takziah
  154. Tumbok: pukul/tumbuk
  155. Tungkik: kotoran telinga, suka dipakai menyebut orang yang dipanggil gak peduli. “Tungkik kurasa dia.”
  156. Ubi: singkong
  157. Uwak: sebutan buat orang yang sudah tua
  158. Wak Geng: ketua geng, bos remannya

Lalu ada istilah di bawah ini yang makin populer karena dipakai oleh alm. Sutan Bathoegana tapi sebenarnya sudah jadi bahasa gaul sehari-hari orang Medan.

159. Ngeri-ngeri sedap: ketar-ketir, deg-degan menghadapi situasi. Situasi yang cocok digambarkan, misalnya kita mau atau habis ketemu seorang CEO untuk final interviu dan kita ceritakan pada teman kalau situasinya tadi “ngeri-ngeri sedap”, agak ngeri tapi aman juga… kurang lebih begitu.

160. Masuk barang tu / masok dia: ungkapan ketika akhirnya keluar jurus pamungkas yang ditunggu-tunggu.

Ya kurang lebih itulah yang saya ingat ya, kalau ada yang mau menambahkan silakan lho.

Jadi ingat lagi, dua minggu lalu seorang sahabat lama di Medan menelepon. Namanya Rossita, temen kuliah saya dulu.

Begini kita ngobrolnya:

“Mak, apa kabar? Sehat kelen kan?”

“Sehat aku, Mak Ros. Kau sehat?”

“Alhamdullilah sehat.” jawabnya. “Aku lagi di kede kenalanku ni, Mak. Orang ini jualan kopi, terus kukasihlah kopi darimu, biar dicobak orang ini kan. Udah kusuruh orang ini polo kau, ya.” Polo = follow. “Tapi kau kutelepon dululah, aku tahu nanti kau pasti gak mau nerge orang, kalau kau gak kenal.” (terge-red)

“Iyalah, namanya pun gak kenal.” jawab saya. Maksudnya, ‘iyalah, kan gak kenal’.

Lalu kami berdua ketawa.

Salam,

ZD

by

About Zizy Damanik Passionate in traveling, photography, and digital content. I have a professional experience as a digital marketer and social media strategist at Telco and OTT. Drop your email to zizydamanik22@gmail.com to collaborate.

6 thoughts on “160 Kosa Kata Bahasa Medan Buat Bekal Jalan-jalan ke Medan

  1. Oh iya, saya juga sejak lama pengen jalan2 ke Sumatera Utara ini, mau mengunjungi teman saya yang sekarang bekerja di Tanah Karo

    • Zizy Dmk

      Oh temennya orang Karo ya? Berarti ngomongnya pakai “kam” untuk “kamu”.
      “Jadi kam ajak aku jalan-jalan keliling kota?”

  2. Saya membayangkan mba’ ngomong pake logat Medan sambil baca postingan ini haha dan ada beberapa yg mirip seperti di KalSel seperti no. 17 dan 49, bedanya di sini pake DA hehe kalo honda iya bener merk apapun ya honda lah semua

    Mau bikin postingan kyk gini juga tapi dulu rasanya pernah bikin kamus bahasa Banjar dengan kawan, mengumpulkan ratusan kata-kata dan artinya dalam bahasa Indonesia, walau akhirnya malah direposting orang dan diaku-aku itu karyanya, menyebalkan (lha malah curhat hehe)

    • Zizy Dmk

      Hahaha bikinlah.
      Meskipun sudah diposting orang diam-diam, yang sekarang dibuat jadi hak cipta aja gitu..

  3. Kocak banet ya sate kera 😀
    Saya punya teman orang medan khususnya batak, sudah puluhan tahun berteman
    Tapi tetap saja saya tak bisa menirukan bahasanya, paling hanya dang ngadong, alias tak ada.
    justru teman saya orang batak itu, malah bisa berbahasa jawa
    saya jadi malu

    • Zizy Dmk

      Hahaha… sy ada temen orang bagak memang besarnya di Jawa. Tiap ketemu org Jawa dia jg bisa lho bahasa Jawa. Sama kayak papi saya juga, temennya segala suku banyak dan beliau jago pake bahasa sehari2 mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *